Jumat, 14 Mei 2010

Di Lenteng Agung, Kami Berbagi Sebuah Kisah Tentang Peristiwa 12 Tahun Silam

Oleh Otty Widasari | Pada Jumat, 14 Mei 2010
* * * 
Ada  di mana saja ya teman-teman Forumlenteng di saat hari-hari menjelang Reformasi duabelas tahun silam?
Sejauhmana Reformasi itu telah mencapai tujuannya selama ini menurut pandangan mereka?
Saya coba menanyai mereka satu persatu…

Demo mahasiswa pada Mei 1998
Demo mahasiswa pada Mei 1998


Ada di mana kamu pada tanggal-tanggal segini, 12 tahun yang lalu?

Jaka, saat itu berusia 19 tahun:

Di Lenteng Agung, dan berstatus pengangguran. Sedang nongkrong di pinggir jalan dekat Kampus IISIP, Jakarta. Gue menyaksikan mahasiswa sedang demo. Dan yang lebih menarik bagi gue saat itu melebihi peristiwa demonstrasinya sendiri adalah peristiwa perkelahian antar sesama mahasiswa yang sedang berdemo.

Diki, saat itu 17 tahun:
Di Depok, gue tanggal-tanggal segini nggak sekolah, nggak boleh sekolah oleh bokap, karena bokap takut rusuh. Kemudian nenek gue menelpon. Pake seragam abu-abu, gue disuruh nyari om gue yang kuliah di Gunadarma oleh nenek gue. Gue muter-muter, gila! Rame banget. Sampai gue puterin Kampus G dan H di Kelapa Dua.
Yang nenek gue khawatir banget, Sebetulnya om gue ini ga hobi gituan. Demo-demo. Tapi mungkin karena nenek gue nonton TV tentang demo mahasiswa, hari-hari menjelang hari H (Suharto lengser-red), om gue jadi sering pulang malam. Ya, asumsi nenek gue, dia ikut demo-lah. Dia kan anaknya kalem banget, ga ribet-ribet, pokoknya ga mau ngomong yang keras-keras. Tiba-tiba ada begituan, gue juga berpikir, agak aneh, nih.
Sekarang dia kerja di Astra Internasional, bagian kredit mobil ACC. Sudah punya anak satu. Kalau lihat gue dia merasa…. ada hal yang ga bisa dia raih dulu. Dia cemburu. Yah… karena gue ngejar apa yang gue pengen.
Gue ngeliat peristiwa massa, demonstrasi, waktu itu sih, keren benget, seperti gue saat tawuran sama anak STM. Mereka rame-rame, kompak. Dan saat rame-rame itulah mereka jadi berani.


Fuad, saat itu 16 tahun (Seniman Video):
Di Rangkasbitung, aman tenteram. Hal yang paling terasa hanya harga bahan pokok naik tinggi dan harus mencari alternatif makanan, seperti memperbanyak sayuran. Peristiwa kerusuhan hanya sekedar sebuah acara di televisi, seperti acara lainnya. Gue cuma fokus sama sekolah.

Hafiz, saat itu 27 tahun:
Di Cikini. Saat itu aku nganggur, akibat krismon, miskin banget. Di kantong mungkin cuma ada 3 ribu perak. Itu juga sisa dikasih Dolo (Dolorosa Sinaga, dosen Hafiz semasa kuliah-red) beberapa minggu sebelumnya. Aku hidup dari tanggungan orang, sebelum kemudian ada yang ngajak kerja di Majalah Indikator.
Aku lihat penjarahan di Pasar Cikini, lihat orang-orang membongkar pertokoan di Pasar Cikini. Trus aku jalan sama Wisnu (teman sekampus dulu) ke Kota. Lihat orang pada bakar-bakaran. Jakarta waktu itu sepi. Sempet jalan juga ke tempat lain seperti Slipi. Di jalanan hampir nggak ada kendaraan sama sekali. Rasanya mencekam banget. Saat Soeharto lengser aku ada di dalem Gedung DPR, di depan TV Setelah Soeharto mengungumumkan lengser kita semua keluar gedung, teriak-teriak. Ada yang nyebur ke kolam di halaman DPR. Aku nggak ikut nyebur. Trus kita pada naik ke kubah gedung DPR. Ada yang kencing di atas sana. Yang paling mengesankan adalah pengalaman duduk-duduk di atas kubah itu. Itu pengalaman visual dan tubuh yang tak terlupakan. 

Massa menduduki Gedung DPR
Massa menduduki kubah Gedung DPR

Acong, saat itu 15 tahun:
Di Bekasi, gue SMP kelas tiga, waktu itu kan habis EBTANAS, trus gue ngumpul di rumah teman gue yang anak guru, teman-teman geng lah. Kebetulan dari rumah teman gue ke pusat Kota Bekasi ga jauh. Itu kita baru dapat informasi bahwa di pusat kota lagi ada kerusuhan. Jalanlah kita ke pusat kota. Kira-kira 200 meter tuh baru jalan, ada tukang becak dari arah berlawanan bawa baju banyak, dia teriak, ”De, mau baju, ga? Nih, ambiil…” kira-kira ada 10 potong baju dia lempar waktu itu.
Sampai di pusat kota, gue ngeliat, Wuih, ini kok orang pada ngambil-ngambil, masuk ke toko? Apakah gue bisa? Karena berhubung waktu itu…yah, apa, ya? Karena masuk-masuk ke aksi massa kan, ya? Udahlah gue ikut nimbrung ke situ. Karena toko yang terdekat waktu itu adalah toko peralatan bulutangkis, ya udah yang kepikiran untuk gue ambil itu… ngambil raket. Mereknya Carbonex. Kenapa ngambil raket? Yah, karena teman gue ngambil sepatu, kanan semua… udah ga mungkin, udah berantakan semua tokonya itu. Nah, gue ngambil yang gampang, ga perlu sepasang, kan? Ya udah, ngambilnya raket. Dari situ gue liat, wah, ini udah mulai chaos (kacau). Ga lama teman gue yang anak guru itu ditelponlah sama orangtuanya. Jaman itu teman gue udah pake hape. Akhirnya, ga lama kita semua pulang ke rumah teman gue itu. Baru kita nonton TV, lihat, oo…ada peristiwa.
Saat itu gue ga kepikir apa-apa. Pokoknya ada aksi massa yang rusuh. Gue ga ngerti itu apa. Karena yang gue liat, mereka sebagian marah-marah ga jelas gitu. Tau-tau datang  ke pertokoan, nimpukin. Juga Bank BCA, apa-apanya diambilin. Gue juga baru sadar, dan yang paling jelas ya itu, jadi ada satu karyawan BCA di atas, dia udah minta tolong, tapi sama massa malah dikunci pintu bawahnya, trus ditimpukin kaca atasnya dari bawah, ga tau gimana tuh kondisi akhirnya, karena di bawah situ dibakar. Padahal dia udah nunjukin tangan begini,  jangan…jangan…
Gue baru sadar semuanya pas Soeharto lengser. Setahu gue, ya udah, presiden turun. Gue lihat, apa, ya? Karena gue belum ngerti, belum kenal juga istilah korupsi, ya, gue cuma berpikir ini hanya orang-orang yang dendam aja.
Orang tua gue cuma telpon, ”Ya udah nginep aja di situ, jangan pulang.” Karena pulang juga udah ga mungkin. Ga ada angkot, ga ada apa-apa. Ya udah gue nginep di rumah temen gue. Mungkin gue mulai sadar politik ya SMA-lah, karena gue udah mulai ikut Pemilu.

Massa berbondong-bondong menjarah pertokoan milik warga Tionghoa
Massa berbondong-bondong menjarah pertokoan milik warga Tionghoa

Abe, saat itu 16 tahun:
Di Pamulang, saat itu gue baru pulang kalah tawuran melawan anak SMA lain. Trus gue liat gedung Ramayana ramai banget. Banyak orang pada manjatin tembok gedung itu. Gue ga ngerti ada apa. Gue pikir itu juga orang-orang yang sedang tawuran. Ga taunya itu peristiwa penjarahan. Gue cuma menyaksikan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Gelar, saat itu 11 tahun:
Di Karawaci. Waktu itu kan sore ya, eh pagi… rumah gue masih dekat sama kampung, belum ada sekat beton antara kompleks rumah gue dengan perkampungan, masih pohon-pohon bambu. Di depan situlah ada Lippo Karawaci Supermall, baru kira-kira setahun berdiri. Temen-temen gue kebanyakan orang situ, pada main bola. Gue keluar, disamper temen gue, “Ke Lippo, yuk, ngejarah!” Gue kebagian nunggu di depan Islamic (RS Islamic Center), jadi gue kebagian naroh-naroh aja ke becak. Gue sempat ikut ke dalam, di situ ada konter jam, pecahin kacanya, serok, masukin ke baskom. Teman gue begonya, kan kaca ya, tangannya berdarah. Gue mainnya sama anak yang udah SMA. Teman-teman gue di rumah jarang yang seangkatan gue. Paling satu-dua orang. Gue dapet sepatu bola. Yah, sepatu bola itu sempat gue pake, sih. Sepatu kanan dan sepatu kiri gue beda-beda. Pas tujuhbelasan ngadu bola, tuh sepatu masih ada. Anak-anak daerah gue sepatunya belang-belang semua. Ketahuan itu bekas ngejarah. Tragedi 1998 itu.
Tetangga-tetangga gue ada yang bawa kulkas, ada yang bawa magic jar. Barang paling mahal yang gue dapat jam tangan merek Casio, Baby-G warna putih, dan sempat gue pake sampe SMA. Sudah, gue ga boleh keluar sehabis itu oleh emak gue. Sore, gue pulang, besoknya gue ga boleh main. Dia nanya,”Dari mana ini?” Gue jawab, “Dikasih,”. Namanya Kodir, temen gue. Kodir murid emak gue . “Dikasih, nih, sama murid Mama. Dia dari Lippo, ngejarah.”
Tukang becak, tukang ojek, pada kacau. Orang Cina pada digebukin. Ada temen gue, namanya Harun. Dari Kalimantan, orang Cina Pontianak. Dia punya toko yang ditimpukin. Seminggu kemudian dia nggak ada di sekolah. Gue ga tau kabar dia sampai sekarang. Taunya toko dia dicoret-coret, ancur barangnya. Semenjak itu dia ga ada kabarnya, ga ada yang tau dia di mana, sampe hari ini. Katanya, kakaknya, cewek, kakak kelas gue, diperkosa.

Andang, saat itu 15 tahun:
Di Pasar Minggu. Baru terima kartu kuning, tanda lulus EBTANAS. Gue sedang main basket di belakang rumah gue. Rumah gue dekat terminal Pasar Minggu. Ada Robinson, Ramayana. Nah, kompleks rumah gue dekat situ. Pertama gue lihat asap. Baru kita ke sana, (Ramayana), orang-orang udah pada kelar. Bawa-bawa kasur, kulkas. Gue ga ikutan, gue cuma ngeliat aja. Gue pengen. Tapi, yah, enggak aja. Yang gue rasain, gue ga takut, cuma merasa ini aneh. Tapi datar aja. Teman-teman satu komplek juga ga pada ikutan. Gue anak baik-baik kali, ya? Anehnya, teman-teman sepermainan gue itu pun tidak ada yang menjarah. Jadi memang lingkungan gue ga membawa gue untuk bandel. Padahal kita hidup di dekat pasar.
Gue ga pernah terlalu nonton TV. Yang kerusuhannya itu, gue ga tau itu apa. Tapi yang gue tau waktu itu memang saatnya Presiden Soeharto lagi didemo. Baru setelah itu orang-orang pada rame. Semua orang pada bangun dan jagain kompleks, takut dijarah juga. Pos satpam jadi rame. Pada akhirnya gue merelasikan, dalam artian, ini pasti ada hubungannya, nih, antara Soeharto lagi ngomong (di TV-red), setelah omongan itu orang pada bersorak semua. Mungkin sebelum Soeharto lengser itu masyarakat masih pada sebel, tapi gue ga tau apa hubungannya orang pada ngejarah. Tapi kalau demonya di Istana (DPR) gue masih bisa ngerelasiin. Kesadaran politik sudah ada sedikit saat itu. Tapi gue cuma mikirin masuk SMA aja. Setelah kuliah baru gue mulai ngertilah.


Hmm…ada kerusuhan, ada banyak korban, pasti ada cerita seram…

Gelar, sekarang 24 tahun (Seniman Video):
Dulu di daerah gue sempet ada cerita serem. Anak-anak pada takut semua kalau lewat di jalan yang itu.
Setelah kerusuhan, orang Lippo Supermall Karawaci (Pihak pengelola), ngumumin, orang yang bisa ngangkut mayat dibayar 100 ribu per mayat. Karena mayatnya banyak banget di dalem. Gue ikut. Gue sempet masuk sama temen-temen gue. Itu udah seminggu setelah kejadian. Mall tertutup semua abis dan bau bangkai. Satu Lippo Karawaci bau bangkai. Nah, kan ada petugas yang pada ngebukain pintu. Pintu dibuka semua akhirnya, nah, orang-orang dibayar kalau bisa ngeluarin mayat, seratus ribu per kepala. Teman-teman gue ikut. Gue di luar, gue ga berani. Karena udah bau banget. Gue lihat, Ditarik-tarik gitu. Udah gosong semua, dimasukin ke mobil pick up. Gue liat semua, karena Lippo Karawaci deket banget sama rumah gue. Seluas dalam mall itu mayat semua. Item gosong dan bau. Ada beberapa yang pas ditarik tangannya copot. Parah!
Sejak itu ada cerita tentang ‘Seli’ alias Setan Lippo. Jadi ada tetangga gue ceritanya lagi pulang kerja. Mas Dabung namanya. Kalau pulang kerja dia lewat situ. Masih bau bangkai, udah lebih dari sebulan. Itu Lippo kan baru dibuka lagi setahun kemudian.

Dia naik motor. Bau bangkai…bau sangit. Malem. Di terowongan, Mas Dabung naik motor. Tiba-tiba di sebelahnya ada motor lain. Mas Dabung ga noleh. Jalan terus. Trus, orang yang di motor sebelah, ngomong, “Masih bau ya, Mas?”
Mas Dabung nyahut, “Iya nih masih bau. Padahal udah lama, ya.” Dia trus jalan. “Mau ke mana?” , “Mau pulang.” , “Baunya kaya gimana sih, Mas?” tanya si pengendara asing lagi.
Mas Dabung jawab, “Ya bau gitu deh…gosong-gosong bau mayat gitu. Sangit!”
“Kayak saya nggak baunya?” Si orang tadi nanya.
Waktu Mas Dabung noleh, mukanya orang itu ga ada, ga keliatan. Langsung ngebut, ngeeeeeeeeng…pulang. Sampe di rumah, emaknya dia lagi ngobrol sama emak gue di bale-bale, malem. Mas Dabung langsung banting motor, lari ke emakya melukin sambil nangis.
Sampe sekarang ceritanya masih ada. Seli…Setan Lippo.

Ada Perubahan nggak, yang kamu rasakan setelah Reformasi?


Diki, sekarang 29 tahun (Periset Video):
“Perubahan setelah Reformasi yang gue rasain, ada di pola berpikir dan pemahaman orang-orang. Contohnya di rumah gue, nenek gue melarang keras, gue ga boleh sekalipun ngomong ‘komunis’.  Sekitar tahun 1995 gue nonton filem G30S/PKI di TV, di rumah nenek. Gue lupa gue ngomong apa, pokoknya gue menyinggung sesuatu tentang ‘komunis’. Tiba-tiba nenek gue membentak gue, “Jangan pernah ngomong itu di sini, di rumah gue!” Tapi sekarang ini, dia sudah bisa ngobrol, mendongeng dan bercerita tentang kisah migrasi dia dari Kalimantan ke Surabaya, lalu naik kereta ekonomi ke Jakarta di tahun ’65. Dia dan kakek gue membawa bokap gue dan mengandung adik bokap gue, bagaimana lebih menyeramkan saat itu situasinya. Cerita itu gue dapat setelah Reformasi. Kondisi tahun ‘65 itu serem banget dan dia melihatnya secara kasat mata. Tahun 98 dia tidak merasa seseram itu, tapi suasana di TV yang justru membuat dia shock. Makanya dia bilang, ”Lo cari om-lo sekarang juga, pokoknya sampai ketemu!”
“Juga dia senang-senang aja menonton video yang gue buat di Tampere, dan gue cerita di sana gue masuk ke Museum Lenin.”



Acong, sekarang 27 tahun (Wartawan Foto):
Perubahan yang paling jelas, apa, ya? Orang lebih berani aja sekarang. Karena waktu itu kan semuanya pukul ratalah. Semuanya adem ayem dan stabil. Sebelumnya kan peran media hanya satu, yang lainya masih terbatas, dan masih kucing-kucingan waktu itu. Ah… ya yang paling gue inget ya itu. Gue kehilagan acara itu, bukan kehilangan sih, dalam satu sisi gue lega. Karena biasanya ketika gue nonton filem kepotong oleh itu, bete banget. Satu jam setiap hari… O ya, acara Laporan Khusus. Setelah Reformasi itu ga ada kan?

Hafiz, sekarang 39 tahun (Kurator Seni Rupa):
Sebenarnya kan perubahan itu harusnya sistematik. Kalau dibilang gagal juga tidak gagal. Ada perubahanlah. Seperti kebebasan pers, multi partai, seperti yang diidam-idamkan oleh Reformasi, kan? Paling minimal sudah ada perubahan dalam bidang kebebasan pers, kebebasan berekspresi, kebebasan berpolitik, pemilu langsung.
Semua perubahan di belahan dunia, di mana pun, Revolusi Mei, Revolusi Bolshevik, revolusi apapun lah, ada semacam gerakan para intelektual jugalah yang melakukan pencatatan, melakukan statement-statement politik, statement yang menyentuh wilayah filosofis yang dibahas sangat komprehensif. Dan itu menjadi bagian dari sejarah kebudayaan, sejarah pemikiran. Sekarang, kan reformasi yang aku tahu ga pernah ada semacam telaah akademisnya yang komprehensif tentang hal itu. Karena memang pada jaman itu para intelektualya pada sibuk jadi selebriti. Pada sibuk turun ke jalan tapi nggak melakukan atau men-set up-nya menjadi  sebuah peristiwa yang bisa kita baca sebagai sebuah ide pemikiran di balik reformasi. Aku juga tidak bilang yakin sepenuhnya akan hal itu, tapi kan sampai sekarang ide pemikiran tentang reformasi masih sangat ngambang, sangat abu-abu. Kalau kita misalnya melihat peristiwa Mei Merah, kita bisa merunut tulisan-tulisannya Sartre, Foucault.
Revolusi Bolshevik, Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, di Asia ada Revolusi Kebudayaan di Cina, yang dilakukan Mao Zedong, itu memag ter-set up, terkonsep, walaupun membunuh ribuan orang juga. Membunuh para intelektual juga. 



Jaka, sekarang 31 tahun (Penulis Lepas):
Reformasi itu hanya sebatas seremonial aja. Ga banyak yang berubah menurut gue. memang mungkin kelihatannya sekarang kita lebih bebas bicara. Tapi pada prinsipnya kita masih terkekang. Kalau dibilang kita sudah mendapatkan kebebasan pers dan dalam berekspresi, sebenarnya itu hanya bersifat semu. Misalnya kita pikir kita bisa bebas bergerak di dunia internet yang sepertinya tanpa batas, tapi pengawasan terhadap hal itu ternyata malah menguat.
Rakyat ga bisa bener-bener menekan pemerintah dengan apa yang diinginkan oleh rakyat. Contoh yang paling gampang, kita ga punya lagi keunikan, kita ngomong apa yang sudah diomongin semua orang di facebook. 
Misalnya sekarang kita punya masalah kasus Bank Century, ramai diberitakan, tapi ketika ketika ada isu-isu lain, yang tidak esensial juga menurut gue, akhirnya kasus itu terbengkalai. Jadi tujuan utamanya sudah terlupakan.
Kita tahu, pihak lain tahu, semua tahu kalau Century ada hubungannya dengan Pemilu dan RI 1 sekarang. Kalau itu diungkap, semuanya akan  hancur, apa yang dibangun oleh pemerintahan yang sekarang, yang berkuasa itu, akan hancur. Akhirnya untuk mengatasinya, semua dibelok-belokkan.
Gue ga percaya kalau perubahan itu harus dilakukan dengan sistemik.

Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Presiden RI
Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Presiden RI

Lalu, perubahan yang dirasakan oleh anak yang bapaknya PNS bagaimana, ya?

Gelar:
Dulu kan waktu jaman Soeharto, kalau kampanye bapak gue kebagian jatah nyablon kaos Golkar. Itu mulai dari flyer, kaos, sampai jaket, semua bapak gue. Sekarang udah kagak.  Cukup makmur kalau ada event doang. Bokap sampe sekarang pun tetap Golkar. Sekarang sudah ga dapat job itu lagi, mungkin karena udah naik pangkat kali ye. Jadi ga ada hubungannya dengan Reformasi. Tapi sekarang, kalau lihat acara di TV gitu dia jadi lebih tertutup dalam bicara politik. Misalnya nyokap gue bilang, “Oh, ini SBY aja, nih…” bokap gue ga komentar. Kalau dulu, bapak gue kenceng banget kuningnya. Kelihatan, kuning, kuning, Golkar, Golkar… kalau sekarang adem, ga mau ikut-ikutan atau gimana. Tapi gue tau dia tetep Golkar. Mungkin bukan Soehartonya, tapi ‘beringin’nya.
Tertutup bukan bener-bener tertutup. Maksudnya itu lebih buat dirinya sendiri aja. Mungkin dia protect kalau untuk keluar. Dia ga mau nunjukin kalau dia kuning. Kalau sekarang lebih kalem. Kalau untuk masalah-masalah pemerintahan yang sekarang, dia komentar, kritik, tetep.
Gue selalu suka bokap gue sebelum dan sesudah Reformasi. Tapi kalau situasi rumah, gue lebih suka setelah Reformasi. Karena dia lebih bebas jam kerjanya. Ga seperti kemarin yang kasarnya seperti buruh pabrik. 


Abe, sekarang 28 tahun (Fotografer):
Sebelum Reformasi, dalam politik, ya kayak Gelar bilang, bokap gue pasti kuning. Tapi setelah ‘98 itu sampai akhirnya dia sempat non-job, sekitar tiga tahun setelah reformasi. Dia tetap PNS, dikeluarin dari BKN. Sebenarnya, sih, atasannya bilang, oke namanya masuk. Tapi sampai hari ‘H’ nya, nama dia ga ada. Makanya sekarang dia pindah di DKP. Tapi dalam bicara politik, beda sama Gelar, sekarang dia terbuka banget. Bahkan dia bisa lebih… borok-boroknya ring 1, RI 1 yang sekarang. Seperti waktu itu gue sempat dikasih naskah pidato sebelum itu dikasih ke Presiden. Ke keluarga dia lebih ngomong bebas, dia ngasih sesuatu yang media ga bisa liput, tapi sebenarnya sistim di pemerintahan di Negara Indonesia itu begini, lho. Tapi di media tidak semuanya ter-cover. Dan sekarang kalau dibilang kuning yah, mungkin udah enggak. Bahkan pas mau Pemilu kemarin dia yang gembar-gembor banget untuk pindah dari kuning ke partai lain.
Contoh, kasus harta karun kemarin di Cirebon. Itu sebelum diekspos ke media, kemarin gue udah dikasih liat 2-3 bulan sebelumnya. Kalau sebelum reformasi, itu ga bisa. Sebelum reformasi bokap lebih tertutup dan lebih hati-hati banget untuk bicara, walaupun cuma ke keluarga. Mungkin karena paranoid-paranoid yang ekstrim banget ketika jaman Soeharto. Mungkin takut dicek ke keluarga, terlebih ke nyokap yang juga PNS. Kan dulu banyak kasus orang hilang.
Gue lebih nyaman dengan bokap gue sesudah Reformasi, karena lebih demokratis. Gue bisa lihat bedanya ketika sebelum Reformasi kita harus straight kuning, apalagi nyokap juga PNS. Gue lihat dia gondok ga bisa memilih. Tapi sekarang bisa kasih arahan, perbandingan (partai-red) ke kita, lebih terbuka, lebih demokratis.

Andang, sekarang 27 tahun (Desainer Visual):

Bokap gue mulai ngomong, ah Golkar tuh gini gini…negatiflah, setelah gue SMA. Level gue dan orag tua gue sudah lebih equal. Setelah reformasi lebih ada keterbukaan di rumah gue untuk teknologi. Di rumah semua serba internet. Sebelum ‘98 internet kan belum ada. Setelah ada internet, ya udah, bokap gue kerjanya di depan komputer doang. Kalau dulu selalu ngurusin kolam, jadi ga pernah gurusin kolam. Tapi untuk taraf kehidupan keluarga, sih setelah ‘98 mulai menanjak. Gaji bokap gue di bawah 2 juta lah. Itu untuk menghidupi 5 kepala. Setelah’ 98 kerjanya makin banyak sampingan sih.
Untuk keterbukaan di rumah, gue lebih nyaman setelah Reformasi. Tapi mungkin ga ada hubungannya sama Reformasi. Mungkin karena gue udah gede. Dan mungkin kalau pun sebelum ‘98 gue bertanya sesuatu pada bokap mungkin dia akan menjawab. Karena sebelum ‘98 gue liat surat bebas PKI. Jadi memang ga punya masalah ketertutupan. Ga ada. Jadi bukan karena reformasi. Mungkin ada, tapi gue ga tau apa.
Dia pernah ngomong, “Ini bapak bisa aja kaya,” mungkin dia ga ngomong saat sebelum ‘98 mungkin karena waktu itu gue masih kecil. Setelah gue kuliah, memang bokap ngomong karena memang administrasi penerimaan mahasiswa baru di tempat dia mengajar, dipegang oleh dia semua. Dan orang bisa aja nitip beberapa puluh juta. Dia menolak hal itu sama sekali. Dan sepertinya di masa sekarang itu lebih banyak terjadi. Karena jaman dulu cuma beberapa keluarga tertentu aja yang mampu membayar berpuluh juta. Dan sekarang lebih banyak orang yang punya uang. Dan bokap gue tidak menerima hal begituan di sebelum dan sesudah reformasi.

Eh, gomong-ngomong, Reformasi itu apa sih?



Acong:
Reformasi itu apa ya? Ya reformasi itu baru bisa dibangun degan kekutan yang besar. Kalau reformasi hanya dipikirkan oleh sekelompok kecil orang-orang saja, itu akan sulit terjadi. Maksudnya hanya segelintir orang yang memperjuangkan. Tapi ketika aksi massa itu sudah mulai membesar, reformasi itu akan lebih mungkin terjadi. Setelah 12 tahun, secara misi mungkin reformasi terjadi. Tapi secara visi ga jelas. Maksudnya, setelah itu tuh orang pada bingung semua mau ngapain akhirnya.
Karena saat itu mungkin terlalu banyak tokoh yang bermunculan, entah itu menggunakan momen saat itu, atau mungkin itu rekayasa dia, yah, empat tokoh yang sangat vokal saat itu. Gusdur, Megawati, Amin Rais, dan Sri Sultan. Ga tau juga, apa itu untuk kepentinganmereka. Mereka itu kan tokoh-tokoh lama, gatau juga. Apa muingkin mereka pernah sakit hati, ya, kan?

Hafiz:
Agenda reformasi itu kan pembasmian korupsi, nepotisme, dan sebagainya. Itu sebenernya yang masih kenceng sampai sekarang. Agenda-agenda reformasi memang masih sulit diwujudkan, karena semua memang kena getahnya dari Soeharto.
Sekarang persoalan yang paling inti adalah ngebongkar kerusuhan Mei. Karena itu tidak pernah terungkap siapa dalangnya, siapa pelakunya. Bayangin, ribuan orang yang mati tapi tidak pernah tau itu siapa dalang dan pelakunya. Pegakuan pemerintah kan ga ada. Pengakuan Negara, bahwa kerusuhan Mei itu ter-set up, itu tidak ada. KOMNAS HAM sudah bikin statement itu adalah pelaggaran Ham berat, di DPR ga dibilang itu sebagai pelanggaran HAM berat.
Kalau mau lihat 12 tahun lalu itu bagaimana, itu harus dibuka lagi sebagai agenda utama, untuk melihat reformasi itu.

Jaka:

Apa yang bisa kita lakukan sebenernya sih bagaimana mengubah diri sendiri untuk jadi lebih baik, lebih aware, dan itu yang susah. Karena mengubah diri sendiri kan bukan dari atas ke bawah tapi, dari pribadi-pribadi itu. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh pribadi-pribadi, bukan dengan kelompok. Apa yang dilakukan oleh komunitas-komunitas yang punya kesadaran politik, ya hanya itu yang bisa dilakukan. Seperti yang dilakukan akumassa sekarang ini. 


*        *        *  


Dan saya sendiri, saat itu sedang susah payah berusaha menyelesaikan kuliah sementara hati sudah tidak berkehendak sama. Saya yang sedang mengambil kuliah KKL (Kuliah Kerja Lapangan), bekerja magang sebagai reporter di salah satu Surat Kabar Harian yang cukup ternama di Jakarta. Maka, di hari-hari menjelang perubahan di Indonesia itu terjadi saya ada di mana saja. Saya ada di halaman pusat grosir Goro, Pasar Minggu, saat semua orang memulai penjarahan. Saya berada di Lenteng Agung saat mahasiswa kampus saya berdemo dengan dikawal helikopter tentara tepat di atas halaman kampus. Saya berada di Gedung DPR bersama ribuan mahasiswa yang tak kunjung pulang, menunggu sampai Soeharto turun. Dan saya bersimbah air mata di halaman Kampus Trisakti terkena gas air mata yang ditembakkan militer, saat terjadi penembakan terhadap mahasiswa Trisakti yang hingga kini kasusnya tak pernah terungkap.

Para mahasiswa Trisakti membawa poster wajah para korban kerusuhan Mei 1998
Para mahasiswa Trisakti membawa poster wajah para korban kerusuhan Mei 1998

12 tahun yang lalu, satu lagi peristiwa besar merubah tatanan pemerintahan Negara ini. Menyisakan kisah gemilang runtuhnya sebuah rezim korup yang ternyata masih dirindukan oleh banyak orang. Namun kisah gemilang selalu diiringi dengan kisah tragis tentang jatuhnya ribuan korban, pembantaian satu etnis tertentu, pemerkosaan dan kehancuran fisik yang menuntut banyak  dari keberhasilannya, kalau itu bisa disebut berhasil.

Saya sadar sepenuhnya saat itu saya adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang tidak peduli dan apatis, menjalankan hari hanya untuk menyelesaikan tugas kuliah tanpa sadar benar pada tujuan yang sesungguhnya. Saya menyesal.


Dan di hari ini, 14 Mei 2010, saya berbincang dengan seorang teman, yang mengatakan bahwa sebenernya ada pencatatan tentang Reformasi, tapi tidak bisa dibilang komprehensif. Itu memang fenomena sebuah Negara berkembang, bukan?
Orde Baru tidak hancur. Dia hanya surut ke belakang, karena tidak ada di Negara ini yang sudah mampu melawan kekuatan militer. Jadi terpikir bahwa sebenarnya Reformasi tidak bisa… atau katakanlah: belum mampu menghancurkan Orde Baru dengan kekuatan militernya, layaknya 44 tahun yang lalu  Orde Baru juga dengan kekuatan militernya menghancurkan Orde Lama.

Kalau ini sebuah permainan catur dengan bidak-bidak, siapa lawannya militer? Tentu saja demokrasi. Namun tetap mahasiswa, juga seperti pada tahun 1965, hanya merupakan pion-pion yang digerakkan oleh kekuatan besar itu, yang belum bisa benar-benar kita sebut sebagai representasi atau agen demokrasi.

Lalu, apakah benar perubahan itu terjadi? Apakah ada perubahan terhadap hal-hal yang laten? Bahkan sekarang ini kita semua tahu, pemerintah bahkan menyerahkan pengawasan-pegawasan demokrasi kepada kekuatan-kekuatan radikal yang ada dalam masyarakat.

12 tahun hanya merupakan sepenggal durasi pendek sebuah proses suatu bangsa (dan juga saya) untuk membangun dirinya. Bagi saya, Reformasi seharusnya adalah sebuah titik tolak bagi pemuda Indonesia untuk merubah dirinya dari keapatisan, menjadi manusia Indonesia yag lebih berkualitas, karena ada seorang pakar politik yang mengatakan, bahkan perubahan di negeri ini baru benar bisa terjadi dengan cara menghilangkan satu generasi, agar tidak ada lagi sisa-sisa kebobrokan mental dari masa lalu.
Bagaimana itu? Mengerikan bukan?

Jumat, 02 April 2010

Para Penjaga Malam

Oleh Otty Widasari, Agung Natanael & Dian Komala | Pada Jumat, 2 April 2010
* * * 
Malam-malam di Lenteng Agung

Seingatku, sejak masa kuliah dulu, kawasan Lenteng Agung sekitar Kampus IISIP tidak pernah tidur. Kawasan yang banyak memiliki rumah-rumah kost untuk mahasiswa ini selalu ramai dan terang benderang, bahkan di jam-jam lewat tengah malam. Anak kost sering berseliweran, memenuhi warnet dan tempat-tempat penjual makanan yang tersebar di sepanjang jalan dan pinggiran rel kereta.

Suasana Jalan Raya Lenteng Agung waktu dini hari
Suasana halte dan Jalan Raya Lenteng Agung saat dini hari

Sebagai salah satu anak kost, dulu aku lebih sering menginap di rumah kost temanku beramai-ramai, dibandingkan dengan kamar kostku sendiri. Kadang untuk mengerjakan tugas, tapi lebih sering untuk nongkrong ramai-ramai tanpa tujuan. Aku pun salah satu dari para mahasiswa yang sering berseliweran tengah malam di jalan-jalan kecil Lenteng Agung untuk melakukan hal-hal tak penting seperti anak kost lainnya.

Yang paling mengesalkan dari hal tersebut di atas bagiku adalah kalau harus bertemu dua orang Hansip yang selalu seliweran berkeliling kampung seperti para mahasiswa insomnia tersebut. Seorang Hansip tua, berperawakan kurus kering, dan temannya yang tampak berusia jauh di bawahnya. Mereka selalu saja menanyakan ke mana tujuanku di jam lewat tengah malam begitu. Mungkin kalau aku laki-laki mereka tak akan terlalu ambil pusing.


Hansip
Sebetulnya, untuk menjawab pertanyaan mereka sih gampang-gampang saja. Aku bisa memberikan jawaban apa pun yang terlintas di kepalaku saat itu, dengan asal-asalan. Tapi aku merasa enggan kalau sampai mereka melihat aku harus memanjat pagar, karena kalau aku pulang terlalu malam sehabis nongkrong, gerbang tempat kostku sudah dikunci. Pak Rosid, seorang warga sekitar yang sejak pertama rumah kost ini berdiri pada tahun 80-an dibayar oleh ibu kost untuk menjaga keamanan, tidak pernah benar-benar menjaga keamanan. Dia selalu tidur pulas sambil mendengkur nyaring di sofa ruang tamu rumah kost. Para penghuni kosst harus berteriak-teiak memanggilnya sambil mengetok kuat gembok besar ke jeruji pagar untuk membangunkan Pak Rosid. Itu pun sering tak membuahkan hasil.
Aku tidak mau melakukan hal gaduh itu. Dan aku tidak punya cukup kesabaran untuk menunggu sampai Pak Rosid bangun dan membukakan pagar. Maka aku pasti akan langsung memanjat pagar tinggi rumah kostku tersebut. Walau mereka sudah tahu apa jawabanku, ke dua hansip keliling itu akan tetap menanyakan perihal panjat memanjat itu, dilanjutkan dengan beberapa wejangan yang membuatku gerah.

Dua Hansip yang selalu keliling kampung menjaga keamanan di malam hari
Dua Hansip yang selalu keliling kampung menjaga keamanan di malam hari





Saking seringnya aku merasa sial bertemu mereka saat sedang memanjat pagar karena jam dan rute keliling mereka yang random, aku selalu berusaha waspada mengamati situasi jalan yang gelap. Beruntung kalau sebelum bertemu aku sudah mendengar bunyi dentang keras mereka memukulkan pentungan ke tiang listrik. Kalau kebetulan aku melihat mereka di kejauhan saat aku akan memanjat pagar, biasanya aku tunda dulu memanjat dan langsung berjalan melewati rumah kost kawanku dan mampir di warung rokok dan membeli sebungkus rokok, memberi waktu pada ke dua hansip tadi, sampai mereka hilang di balik tikungan. Sialnya, mereka selalu ngeronda sambil berjalan lambat-lambat, bercengkerama dan bersenda gurau. Tangannya yang memegang pentungan diayun dengan santainya, lalu mendarat ke tiap tiang listrik dengan kencangnya, memberitahukan keberadaan mereka kepada para maling dengan bunyi yang dahsyat. Suara yang paling membuat aliran darahku naik ke kepala.

Seiring berjalannya waktu, kami sudah saling terbiasa satu dengan yang lainnya. Keadaan sudah banyak berubah. Aku telah memiliki seorang anak dan mengontrak di sebuah rumah kecil yang masih merupakan bagian dari gedung besar rumah kostku dulu semasa kuliah. Pak Rosid tetap menjadi penjaga malam di situ, tetap mendengkur nyaring di saat seharusnya dia terjaga menjalankan tugas. Namun karena menyewa rumah yang lebih besar dari kamar kost dengan harga yang jauh lebih mahal, aku mendapatkan hak istimewa memiliki duplikat kunci gerbang sendiri. Jadi aku dan suamiku tak perlu berurusan langsung dengan Pak Rosid dalam hal akses keluar masuk gerbang. Aktifitas kerjaku juga tetap berada di sekitar Kampus IISIP, Lenteng Agung di mana bangunan di sekitar sini juga sudah sangat banyak berubah.

Taman Lenteng, salah satu
Duo Hansip sedang nge-ronda di Taman Lenteng, sebuah taman yang berada di kawasan rumah warga tempat mereka menjaga keamanan

Namun duet hansip itu tidak pernah berubah. Generasi pengisi rumah-rumah kost di Lenteng Agung yang terus berganti, menjadi saksi keberadaan mereka dari tahun ke tahun. Mereka tetap bekerja menjaga keamanan, berkeliling di jalan-jalan kecil Lenteng Agung, walau usia mereka semakin tua. Pasti mereka semakin santai saja berjalan lambat-lambat sambil membunyikan tiang listrik dengan pentungan kesayangan mereka.  Tak pernah absen mereka menyapaku tiap malam aku pulang kerja, menyapa anak dan suamiku dengan ramah. Namun aku tetap menanggapi mereka sambil lalu dengan rasa geli bercampur kesal yang tersisa. (Otty Widasari)
***

Bang Adjied dan Si Babe

Saat lampu jalan mulai menyala, saat kebisingan mulai tergantikan dengan keheningan, dan pintu serta jendela rumah warga mulai terkunci terlihat dua sosok pria tua yang tengah duduk di depan sebuah warung yang telah tertutup.

Dua
Dua penjaga malam di kawasan rumah warga RT 11/02, Lenteng Agung

Seragam lengkap berwarna hijau-hijau dari topi hingga celana panjang, dan sepatu boots hitam di selimuti jaket kulit hitam untuk menangkal dinginnya udara di pagi buta tersebut, sempat menghentikan langkahku saat melintas. Mereka adalah Abdul Madjied (57) alias ‘Bang Adjied’ dan Maulani (69) yang biasa dipanggil ‘Babe’. Mereka adalah para penjaga malam (Hansip) yang setia menjaga rumah-rumah warga RT 11/02 saat penghuninya tengah tertidur lelap, menjaga keamanan lingkungan sekitar dari ancaman di kawasan Lenteng Agung.

'Bang Adjied’ dan  ‘Babe’ mulai nge-ronda
'Bang Adjied’ dan ‘Babe’ mulai nge-ronda

Keduanya merupakan warga pendatang. Bang Adjied berasal dari Jakarta Selatan, kini ia memilki 2 orang anak. Sedangkan Babe berasal dari Jakarta Pusat yang memiliki 4 orang anak (2 laki-laki & 2 perempuan), semuanya telah berkeluarga.  Mereka tinggal dan menetap di Lenteng Agung sekitar tahun 1979-an. Singkat cerita, kini mereka tinggal berdua, karena ternyata ada 4 orang hansip yang dulu pernah menjaga daerah Lenteng Agung, namun ke dua temannya tidak sanggup lagi untuk menjalani pekerjaan ini. Sekarang Bang Adjied dan Babe telah bekerja sebagai hansip selama 30 tahunan.

“Kegiatan yang paling banyak mendatangkan penghasilan adalah saat PEMILU tiba,” tegas Bang Adjied saat berbagi kisah dan pengalamannya sebagai seorang Hansip. Mereka biasa mendapatkan upah Rp. 100 000 dalam sekali tugas menjaga keamanan di RT 11 ini. “Ya maklumlah gaji bulanan tergolong kecil,” tambah Babe, “Ditambah lagi seragam lengkap baru.” Semula mereka enggan untuk membeberkan penghasilan mereka tiap bulannya kepadaku. Namun, setelah kubujuk-bujuk, ternyata upah mereka jauh dari hitungan UMR (Upah Minimum Regional) hanya Rp. 225 ribu / bulannya.

Rasa ibaku kukesampingkan saat mendengar cerita mereka. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, tepat saat mereka akan berkeliling guna mengecek keadaan rumah warga. Selama perjalanan mereka bercerita bahwa tiap dua jam sekali mereka harus melakukan cek rutin berkeliling, dan hari itu  adalah giliran mereka untuk ronda berdua yaitu pada hari ke tiga karena biasanya dilakukan sendiri-sendiri sehingga salah satu di antara mereka dapat berlibur. Rute yang dilalui pun tidak terlampau jauh, mungkin karena aku ikut bersama dengan mereka berkeliling (pikirku).

Berkeliling
Para penjaga malam bertemu beberapa warga saat sedang keliling menjaga keamanan

Ternyata untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan diri dan keluarga mereka, Babe dan Bang Adjied menerapkan tagihan uang keamanan kepada para warga tiap sebulan sekali. Tagihan ini bersifat legal karena hasilnya akan dimasukkan ke dalam kas Hansip yang dipegang oleh bendahara RT. Nominalnya pun termasuk kecil, cuma Rp 5000 per Kepala Keluarga. Namun khusus janda hanya dikenakan Rp 3000 per bulan. Sedangkan para mantan Hansip diberi pengecualian. Namun ada saja warga  yang memberi jauh lebih besar dari pada itu.

Lalu sampailah kami di beberapa tempat Babe dan Bang Adjied biasa nongkrong untuk mengisi waktu senggang saat ronda hingga fajar tiba. Bukan di Pos Hansip melainkan di halte dan warung kopi Mamiri yang biasa mereka kerap kunjungi.

Nongkrong di Warung Mamiri menjadi rutinitas mereka disela-sela pekerjaannya
Nongkrong di Warung Mamiri menjadi rutinitas mereka disela-sela pekerjaannya
Surat Tugas sebagai penjaga malam sejak 30 tahun lalu
Surat Tugas sebagai penjaga malam sejak sekitar 30 tahun lalu

Menurutnya, pos yang kini mereka tempati kurang nyaman dan sangat terbuka hingga udara dingin sangat menusuk tulang. Padahal pos mereka yang dahulunya bukan itu, melainkan yang berada di ujung taman Lenteng Agung, merupakan pemberian Bapak Slamet Adi (ketua RW 02) saat taman tersebut masih berupa kebon Pisang dan Pepaya. Namun, hal tersebut hanya bersifat sementara karena sekitar tahun 2008-2009 pos tersebut dijadikan Pos Sispandu (Sistem Pengaman Terpadu) yang anggotanya terdiri dari warga dan hansip dengan satu syarat, harus memilki HT (Handy Talkie). Satu hal yang sangat berat bagi Babe dan Bang Adjied karena harga 1 unit HT tersebut lumayan mahal. Kini pos tersebut hanya kosong melompong, tak berpenghuni, dindingnya mulai retak, dan banyak coretan-coretan di tembok depan, sungguh tidak terawat.

Pos Siskamling saat ini
Pos Kamling (Keamanan Lingkungan) saat ini
Pos
Pos Sispandu yang dulu menjadi Pos Kamling Bang Majied dan Babe

Tidak butuh waktu lama untuk mencairkan suasana di pagi yang dingin tersebut, ditemani segelas teh hangat dan sebungkus rokok kretek, Babe dan Bang Adjied melanjutkan cerita-cerita pengalaman mereka saat bertugas di Lenteng Agung. Salah satu yang menarik adalah kisah tentang suami isteri yang sedang cekcok, “Saat itu kami sedang duduk-duduk seperti biasa, tiba-tiba datanglah laki-laki, berjalan sempoyongan dan rambut acak-acakan, duduk, kemudian rebahan di pos kami (enggan menyebutkan nama lelaki tersebut, yang kini tinggal di RT 07). Lelaki itu berkata, “…..Nanti kalau ada yang datang, pura-pura saja kalau saya mabuk berat ya, Pak..!!” Selang beberapa menit, seorang perempuan berpakaian putih dan berkerudung datang menghampiri sembari menangis dan berteriak-teriak kepada laki-laki tersebut, lalu sandiwara itu pun dimulai. Setelah mengikuti sandiwara laki-laki tersebut, usut punya usut ternyata mereka adalah pasangan suami isteri yang sedang bertengkar.”

Pohon Asem yang tumbang
Pohon tua yang tumbang saat Bang Adjied sedang jaga malam

Belum lagi kisah yang paling up-date adalah tentang pohon tua yang tumbang di Taman Lenteng, “ Ketika itu bang Adjied bertugas sendirian, cuaca sangat tidak bersahabat, hujan dan angin yang cukup kencang membuat Bang Adjied memutuskan untuk tidak berkeliling dan hanya berdiam diri di posnya. Tiba-tiba, tengah malam pohon sejenis asam yang berada tepat di pinggir posnya tersebut tumbang. Bang Adjied langsung lari sembari mengenakan jaket kulitnya untuk menutupi kepala dari hujan yang turun dan melaporkan kejadian tersebut kepada Pak RT. Hingga siang harinya barulah pohon yang berusia kurang lebih 10 tahun tersebut dibersihkan oleh Dinas Pertamanan sekitar.


Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, tiba-tiba ayam pun mulai berkokok dengan kerasnya. Suasana yang tadinya hening kembali diwarnai oleh kebisingan kendaraan yang melintas. Para warga mulai beraktivitas ke pasar, ke kantor, bahkan ada juga yang baru pulang ke rumah mereka masing-masing. 80 Kepala Keluarga RT 11 pun mulai membuka pintu dan jedela rumah mereka, bersiap menikmati pagi. Tidak demikian dengan Babe dan Bang Adjied. Jam inilah saat mereka harus segera pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat dan memulai rutinitas mereka kembali sebagai penjaga malam pukul 22.30 WIB nanti. (Agung Natanael)
***

Para Penjaga Malam Yang Berbahagia

Aku sering melihat Hansip Lenteng Agung ada setiap malam di pos kamlingnya dekat Taman Lenteng Agung. Ada satu Hansip yang menarik perhatianku,  Abdul Majid namanya. Seperti biasa pekerjaan seorang Hansip, Pak Majid berkeliling tiap malam, menjaga keamanan di wilayahnya.

Abdul Majit
Abdul Majid

Postur tubuh Pak Majid, tidak terlalu tinggi dan berperut bulat. Dari tahun 1982 Pak Majid sudah menjadi Hansip di RT 11 RW 02 ini, sampai kini usianya menginjak 57 tahun.

Pak Majid selalu memakai kaos berlambang partai sehari-harinya. Paling sering aku lihat dia memakai kaos berwarna kuning dengan lambang pohon beringin, logo dari Partai Golongan Karya, atau lebih dikenal Golkar,  yang saat ini di ketuai oleh Aburizal Bakrie. Tapi bukan hanya kaos Golkar saja, aku juga pernah melihat beberapa kali Pak Majid memakai kaos berwarna hijau dan putih, masih bertemakan partai. Aku jadi bertanya-tanya, apakah dia mendukung ke semua partai tersebut pada tiap Pemilu, atau dia selalu memanfaatkan gelaran pemilu itu sebagai saatnya mendapatkan kaos gratisan.

Pak Majid selalu memakai kaos partai
Pak Majid selalu memakai kaos partai di kesehariannya

Suatu sore aku lewat Taman Lenteng Agung,  kulihat Pak Majid sedang bermain kelereng bersama anak-anak kecil. Di antara mereka ada seorang bapak lain yang seumuran dengan Pak Majid juga,  Pak Rosid namanya. Pak Rosid pun bekerja sebagai penjaga malam di sebuah rumah kost di Gang Lurah. Intinya, setiap malam aku melihat mereka bekerja sebagai penjaga malam, tapi di sore hari saat bebas tugas, aku melihat mereka bermain kelereng seperti anak-anak.

Pak Rosit, penjaga malam yang juga sering bermain kelereng bersama Pak Majid
Pak Rosid, penjaga malam yang juga sering bermain kelereng bersama Pak Majid

Pak Rosid berbeda dengan Pak Majid. Walau pekerjaan mereka sama, tapi yang dilakukan Pak Rosid terasa lebih eksklusif. Dia menjaga sebuah rumah kost besar dan tampak mewah di Gang Lurah. Kerjanya mulai dari jam 7 malam. Semalaman itu, Pak Rosid mengawasi aktifitas anak-anak kost. Siapa orang-orang yang keluar masuk rumah kost itu. Sekitar jam 11, Pak Rosid mulai mengusiri pacar-pacar para penghuni kost yang tidak seharusnya menginap. Pukul 12 waktunya mengunci gerbang, dan tidur. Sesekali Pak Rosid terbangun untuk membukakan pintu gerbang,  kalau ada anak kost yang pulang tengah malam, lalu tidur lagi.

Aku tahu betul kegiatan Pak Rosid ini, karena aku sering menginap di rumah kakakku yang mengontrak di sebuah rumah kecil yang masih merupakan bagian dari gedung besar rumah kost tersebut. Sekitar jam 5 atau jam 6 pagi,  Pak Rosid pulang ke rumahnya. Mungkin melanjutkan tidurnya.

Hanya dengan menjadi penjaga malam di sebuah rumah kost, tanpa perlu berjalan keliling, menurutku Pak Rosid lebih beruntung dari pada Pak Majid yang harus berkeliling kampung. Selain dapat gaji setiap bulannya, Pak Rosid juga mendapatkan tips-tips dari anak-anak kost. Terutama dari anak kost yang memiliki kendaraan, kerena membutuhkan penjagaan keamanan ekstra.

Ke dua penjaga malam itu tinggal di dekat Taman Lenteng. Ada sebuah jalan kecil beraspal yang kanan dan kirinya berjejer rumah penduduk yang padat. Di antaranya ada rumah mereka. Aku tahu yang mana rumah Pak Rosid, sebuah rumah papan yang sangat kecil, dihuninya bersama istri, anak-anak serta cucunya. Tapi aku tidak tahu dengan pasti yang mana rumah Pak Majid. Sepertinya rumah Pak Majid dan Pak Rosid bersebelahan,  karena aku sering melihat Pak Majid keluar dan masuk ke sebuah bangunan papan kecil yang hanya menyerupai sebuah kotak,  persis di sebelah rumah Pak Rosid. Di gang kecil depan rumah mereka itulah arena mereka bermain bersama anak-anak penduduk setempat.

Anak-anak yang menjadi teman bermain kelereng Pak Majid dan Pak Rosid
Pak Majid dan Pak Rosid bermain kelereng bersama anak-anak

Sambil menunggu gilirannya untuk  bermain,  Pak Majid  duduk-duduk di teras rumah Pak Rosid. Aku selalu memperhatikan waktu mereka bermain kelereng. Karena sering lewat di depan rumah mereka,  akhirnya momen itu jadi menarik bagiku, karena aneh rasanya melihat orang tua yang rutin bermain kelereng setiap harinya.

Aku lihat Pak Majid dan Pak Rosid sering kali dibohongi oleh lawan main mereka, yang rata-rata remaja dan kebanyakan anak-anak kecil. Pak Majid dan Pak Rosid sering kali tidak tahu kalau giliran mereka untuk bermain sudah terlewatkan. Mungkin anak-anak itu memang senang mengerjai para orang tua itu. Akhirnya ke dua orang tua itu jadi lebih sering kalah bermain.

Ternyata bukan hanya permainan kelereng yang menarik bagi Pak Majid. Pernah aku lihat juga, dia sedang bermain layang-layang di tempat yang sama. Namun kulihat saat itu layang-layangnya tak kunjung terbang. Memang sih, saat itu tidak ada angin yang bisa menerbangkan layang-layang.  Tapi kulihat Pak Majid tetap ngotot menaikkan layang-layangnya. Sayang momen lucu dan aneh itu cuma sekali kusaksikan.

Lalu,  kenapa mereka lebih memilih permainan anak kecil ya? Kulihat mereka tidak begitu mahir juga?  Padahal kan mereka pernah kecil,  dan yang kutahu, aturan ke dua permainan itu tetap sama dari dulu. Bisa kuasumsikan kalau mereka sejak kecil memang selalu menjadi bulan-bulanan teman-temannya karena tidak mahir bermain. Dan sampai tua mereka masih tetap penasaran melakukannya. Mungkin juga mereka bermain permainan anak-anak tersebut karena mereka hanya bekerja di malam hari, dan tak ada aktifitas lain siang harinya.

Pos Kamling terlihat lengang di siang hari tanpa para penjaga malam
Pos Kamling terlihat lengang di siang hari tanpa para penjaga malam

Aku juga pernah melihat Pak Rosid membawa sejumlah ikan yang cukup banyak di dalam ember. Ternyata Pak Rosid senang memancing juga. Kakakku bercerita tentang Pak Rosid yang sering membawa jaring bergagang panjang,  ke halaman kontrakan Bu Anis yang ada pohon rambutan dan pohon sawonya. Jaring bergagang panjang itu digunakan untuk mengambil kroto (telur semut) untuk umpan memancing di kali belakang kampus IISIP. Gagang jaringnya dibuat panjang supaya bisa mencapai tempat kroto-kroto yang ada di atas pohon.

Banyak orang yang bilang memancing adalah pekerjaan orang yang malas. Tidak seperti nelayan yang mencari ikan sebagai profesi. Hasil yang didapat berjumlah besar dan layak untuk dijual dan hasil penjualan bisa disebut sebagai penghasilan. Memang dari memancing kita bisa mendapatkan lauk untuk makan. Kalau dapat ikan yang lumayan banyak,  kita bisa menjualnya sebagian. Tapi kalau itu dilakukan hanya sekali-sekali, hal itu hanya merupakan hobi saja, alias bersenang-senang.

Intinya, walau hanya memiliki rumah gubuk dan keluarga yang harus dihidupi,  ke dua penjaga malam ini pastilah orang yang berbahagia, karena kerja mereka setiap harinya hanya bersenang-senang. (Dian Komala)

Jumat, 29 Januari 2010

Balada Si Kancut | akumassa

http://akumassa.org/program/padang-panjang-sumatera-barat/balada-si-kancut/ 

Catatan ini mungkin setara dengan apa yang disebut orang Minang sebagai bacaruik, yang artinya mengumpat dengan kata-kata yang kotor. Karena selama 4 hari berada di Padangpanjang seringkali saya dan Kikie, sesama rekan kerja saya dari Jakarta, diperingatkan oleh teman-teman di sini karena kami sering kali mengumpat. Kami sering mengutarakan suasana hati yang sedang terasa menghentak dengan ungkapan-ungkapan yang terdengar oleh kawan-kawan di kota yang memegang adat istiadat dalam pergaulan ini. Misalnya kalau sedang tidak bisa membalas ledekan Kikie, saya akan mengeluarkan kata-kata (maaf): ’tai’ (yang tidak ditujukan pada siapapun). Atau sebaliknya, Kikie dalam situasi yang sama akan mengeluarkan kata-kata: ‘anjing’. Bahkan, karena sedang ngotot belajar bahasa Minang yang sebenarnya merupakan ‘bahasa ibu’ untuk Kikie (walau ibunda Kikie yang sempat mampir ke Padangpanjang menjenguk kerja anaknya dalam lawatannya ke Sumbar, untuk mengurus Harto Pusako pun tak bisa berbahasa Minang), Kikie menggantinya menjadi ‘anjiang’.

Di lain kesempatan, kalau saya sudah merasa akrab dengan seseorang, maka dalam situasi kerja yang sering membuat saya menjadi tidak sabaran menghadapi keleletan seseorang, tanpa sedikitpun ada rasa kesal saya akan memanggilnya dengan sebutan ‘keong’. Mungkin bahkan akan terdengar lebih parah lagi, di tempat asal kami bekerja. Dalam suasana hati positif  tertentu, saya memanggil teman-teman saya dengan sebutan 'setan', atau 'anak setan'. Dan tak satupun yang tersinggung. Bahkan tak masalah bagi saya kalau mereka juga berlaku sebaliknya pada saya. Nyaris tidak pernah sih, Mungkin karena saya lebih tua, atau mungkin karena di antara orang-orang yang tidak sopan di lingkungan kami, saya adalah yang paling tidak sopan.

Sampai di sini, saya sedang memasuki tahap suasana kerja yang mulai asik sekaligus memenatkan, mulai pula menemukan ‘keong-keong’ baru di komunitas dampingan kami di
Padangpanjang yang menggemaskan saya di saat semua kerja harus terlihat efektif, namun
kadang tidak tercapai sesuai dengan standar kesuksesan per poin yang saya canangkan. Sampai di sini pula, rekan-rekan kerja kami dari Sarueh bisa menerima sebutan itu sebagai sesuatu yang lucu dan bisa membuat kami semua sama-sama tertawa. Kelihatannya sih memang begitu… Ya saya pikir begitu… Semoga saja…

Perbedaan pandangan dalam memandang teman yang memiliki perbedaan umur pun sempat membuat kami mengetuk dahi keheranan, karena misalnya, agak aneh bagi kami melihat orang di sini harus memanggil seseorang yang hanya berusia setahun lebih tua dengan sebutan abang, atau kakak. Sedangkan kami hanya memanggil nama pada rekan kerja kami di Jakarta yang berusia sekitar 7 tahun lebih tua dari saya, yang berarti 16 tahun lebih tua dari Kikie. Padahal menurut penglihatan saya, orang-orang di sini bisa terlihat begitu percaya diri menghadapi lawan bicaranya. Saya mengapresiasinya sebagai budaya baik yang menjunjung tinggi adat istiadat dan menjaga keharmonisan hubungan yang sudah terjalin dengan caranya sendiri sejak abad nan ampau. Hmm…indah juga ya?

Mungkin orang Jakarta memang tidak sopan, atau mungkin memang karakter orang Jakarta sedari dulu kala, tinggal di kota yang  berisi orang-orang dari seluruh suku di Indonesia. Orang Jakarta sudah tidak lagi menganggap sesuatu itu penting kalau dilihat dari bungkusnya alias tata krama, melainkan dari apa yang ada di dalamnya. Itu jelas. Kami orang Jakarta terlalu lelah menyamakan persepsi-persepsi kesopanan dalam bergaul yang selalu saja berbeda, karena asal-usul masyarakat yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia itu tadi. Namun ingat! Apa yang saya maksud dalam paragraf pembuka di atas tidak mengartikan bahwa dalam tulisan ini akan penuh berisi makian atau umpatan dengan menggunakan kata-kata kotor.Bukan juga berarti bahwa saya dengan tak pedulinya tetap mengumpat di hadapan kawan-kawan yang bisa menganggap itu sebagai sebuah bentuk ketaksopanan.

Tapi, catatan ini adalah catatan tentang sebuah kancut.

*         *         *

Berceritalah Kikie di sela-sela waktu bekerja kami di Padangpanjang tentang pengalaman
bodohnya: 

Suatu hari di kontrakan material Lenteng Agung, Kikie yang sudah kehabisan pakaian hendak mandi, dan sebelumnya dia melakukan sebuah ritual terlebih dahulu. Dia menggantungkan dua helai celana dalam pada dua paku yang terpancang di dinding. Pada paku sebelah kiri, satu celana dalamnya yang bersih dan akan dipakainya setelah mandi. Sedangkan, pada paku sebelah kanan dia menggantung satu lagi celana dalam bekas pakai yang akan dicucinya. Selesai mandi, dia mengambil celana dalamnya yang tergantung di paku sebelah kiri, lalu mencucinya dengan bersih sekali, tak lupa membilas dan memerasnya hingga setengah kering untuk kemudian dijemur. Selesai itu dia siap berpakaian. Diambilnyalah celana dalam satu lagi yang tergantung di paku sebelah kanan.
Manusia kadang memang memiliki kebiasaan yang agak aneh terhadap dirinya sendiri. Sebelum mengenakan celana dalam, Kikie (…aduh…) mengendus dulu si celana dalam tersebut. Dia lalu terdiam dan otaknya sedikit berputar karena merasa ada sesuatu yang aneh. Sadarlah dia bahwa tadi telah mencuci celana dalam bersihnya (persediaan satu-satunya di kos-kosan), dan menyisakan celana dalam kotornya untuk kembali dia kenakan. Entah apa yang dia lakukan setelah itu, yang pasti semua kawan-kawan dari Komunitas Sarueh tertawa jungkir balik mendengar cerita itu, kecuali saya. Saya memang tidak sopan dan suka mengumpat. Tapi saya mual membayangkan hal-hal yang berhubungan dengan ketidak sterilan. Saya langsung akan mengumpat dan kali ini ditujukan langsung pada Kikie, jika lagi-lagi dia mengulang cerita itu. Selama di Jakarta dia menyebut peristiwa itu dengan sebutan ‘Balada si Kancut’. Sampai di Padangpanjang, dalam rangka memperlancar bahasa Minangnya, dia menyebut peristiwa itu sebagai: Cincuik Balado, (kolor ber...sambal) membuat saya batuk menahan sesuatu yang hendak keluar dari tenggorokan, sampai-samapai saya mengeluarkan air mata.

Catatan ini memang bisa dirasa tidak pantas bagi orang-orang tertentu, tapi ini kenyataan yang terjadi.
*         *         *

Baru hari ke-3 kerja kami di Padangpanjang, saya sudah kehilangan kunci kamar kos saya.
Mungkin terjatuh waktu saya sedang duduk di warnet dekat Kafe Caristo, Pasar Padangpanjang.
Saya baru menyadarinya saat saya sudah tiba di tempat kos, dan tidak mungkin lagi saya
mengetuk rumah rekan wanita untuk menginap karena agak jauh letaknya dan sudah larut malam. Lagi pula, tidak baik di kota ini kalau perempuan tampak berkeliaran di jalan dalam gelap malam. Terpaksalah saya meminjam kamar seorang teman yang tinggal berdekatan, dan menyuruhnya pergi karena dia laki-laki.

Keesokan harinya saya pergi bekerja ke laboratorium akumassa di markas Sarueh tanpa mandi dan ganti pakaian. Untungnya Padangpanjang adalah kota pegunungan, dingin sekali, terutama di bulan Januari seperti sekarang ini. Jadi rasanya tak terlalu masalah bekerja tanpa mandi. Kikie dan kawan-kawan yang sudah tahu kisah ‘Balada si Kancut’ mulai menakut-nakuti saya dengan kisah itu lagi. Saya diam saja dan program akumassa tetap berlangsung.
Bisa jadi saya memang tidak sopan. Tapi saya tidak mau terdengar bacaruik di hadapan kawan- kawan saya di Padangpanjang. kalaupun terjadi, itu bukan dengan maksud yang negatif.
Saya juga tidak bermaksud menyampaikan sebuah catatan yang tidak pantas, selain menceritakan pengalaman yang terjadi pada saya yang distraktif ini. Dan sumpah, saya tidak mau punya kisah ‘Balada si Kancut’ seperti Kikie yang tidak distraktif tapi… Apa ya namanya?

Maka malam itu juga, saya pergi ke pasar mengejar satu-satunya toko yang masih buka dan siap- siap untuk tutup yang kebetulan menjual perlengkapan mandi juga pakaian dalam. Situasi di sekeliling saya selalu sama distraktifnya dengan saya. Si Bapak pemilik toko mengerut dahi meladeni saya yang mungkin terlihat aneh di matanya. Seorang perempuan berekspresi tidak berasal dari lokasi ini, lewat tengah malam, mencari pakaian dalam. Dan keningnya makin berkerut waktu saya tetap membeli pakaian dalam pria yang dijualnya (karena dia tidak menjual pakaian dalam wanita). 

Entah kenapa, setelah transaksi itu selesai saya meminta maaf padanya… (mungkin itu bentuk adaptasi dari perbedaan persepsi yang sering terjadi jika dua budaya berbeda bertemu dalam satu lokasi yang berpihak pada satu budaya tertentu, atau mungkin rasa bersalah saya yang sadar betapa saya bukan wanita yang sopan kalau dilihat dari sudut pandang tertentu…

Maka maafkanlah saya atas kisah yang terdengar seperti caruik atau umpatan ini)

Padangpanjang 29 januari 2009

Kamis, 15 Oktober 2009

Warung Barokah Pak Jawawi: Sate Kambing, Gule, Tongseng dan Kumpulan Kisah Cinta

Oleh Otty Widasari | Pada Minggu, 15 November 2009
* * * 
 
Buah mangga sedang musim saat ini. Di setiap rumah yang kukunjungi aku mendapat suguhan itu. Menyenangkan sekali, walau membuat pencernaan jadi agak lebih lancar dari biasanya. Randublatung, Kabupaten Blora. Panasnya kuperkirakan mencapai 35 derajat celcius. Matahari bersinar terik setiap hari, dan menyisakan panas dan lembab hingga malam.

1

Kami singgah di warung sate kambing bernama Barokah untuk makan malam. Pak Jawawi, sang pemilik warung suka sekali bercerita. Misalkan tentang pengalamannya hidup di Jakarta, dulu sekali,  menjual sate di kawasan Lapangan Persija, Menteng, Jakarta pusat. Aku memberitakan padanya bahwa lapangan itu sudah tidak ada lagi, diganti menjadi Taman Kota. Dia pun manggut-manggut mendengarnya. Lalu dia juga cerita, setelah dari Menteng dia melanjutkan usahanya di Jalan Margonda Raya, Depok. Saat itu kawasan Depok sudah ramai sekali, tapi dia tidak sempat tahu kalau di sana sekarang ‘ditumbuhi’ banyak mall besar.

“Yah… tapi tinggal di Jakarta itu susah tho, Mbak,” ujarnya sambil mengipas sate untukku dan temanku malam itu.
“Kenapa, Pak?” tanyaku.
“Banyak godaannya…”
“Apa tuh, Pak?” Tanyaku penasaran.
“ Saya kalau di sana main cewek melulu…Hahaha…”
Si Istri senyum-senyum mencibir sambil membuatkan es teh untukku. Aku pun ikut tersenyum sambil lirik-lirikan dengan temanku.

2 

Cerita Pak Jawawi dilanjutkan dengan kehidupan keluarganya di sini, dia sudah memiliki cucu dan hidup berbahagia di kampung. Lalu dia menawarkan kami berkunjung ke rumahnya di Desa Doplang, beberapa kilometer dari Randublatung. Di Doplang ada sumber minyak bumi yang menghidupi masyarakat. Sumber itu  mengeluarkan cairan hitam yang disebut latung (yang kuketahui sebagai minyak mentah) begitu saja dari dalam tanah. Pak Jawawi bilang tanah di Doplang sangat sulit digarap baik untuk bercocok tanam maupun untuk pengolahan minyak mentah atau latung itu. Maka tidak ada perusahaan migas bisa beroperasi di sana. Jadi sejak bertahun-tahun minyak bumi yang ada di sana hanya untuk rakyat saja. Dan menurutku itu bagus juga.

Pak Jawawi
Pak Jawawi

Kami terus mengobrol dengan hangat sambil menikmati sate kambing dengan bumbu kecap dibubuhi bawang merah, cabe rawit dan tomat, persis seperti sate Madura yang ada di Jakarta. Di tengah-tengah obrolan, datang seorang yang berekspresi sedikit ‘tidak wajar’ menurutku. Dia menghampiri Pak jawawi. Mereka bercakap sedikit dalam Bahasa Jawa. Lalu Pak Jawawi memberinya sebatang rokok.

4 

“Dia agak stress, Mbak, ditinggal istri,” jelas Pak Jawawi setelah lelaki itu berlalu. Aku manggut-manggut sambil terus mengawasi orang tersebut. “Tapi dia tidak mengganggu, kok,” Pak Jawawi langsung menambahkan, sepertinya mengerti kalau aku jadi agak cemas. Aku hanya mengangguk saja.

“Di sini banyak orang stress, Mbak.” Pak Jawawi melanjutkan pekerjaannya, mengipas sate untuk pengunjung lain yang jadi ikut mendengarkan percakapan kami. “Ada lagi Si ‘Anu’ yang suka kemari minta rokok sama saya. Orangnya gondrong, seram. Dia stress juga,” Pak Jawawi menambahkan, langsung kusambut, “Oo..itu saya sering ketemu di simpang jalan kalau sedang naik sepeda menuju rumah tempat saya menginap. Tapi dia juga tidak pernah mengganggu.”

5 

Sebelum kami meninggalkan warung itu, Pak Jawawi menawarkan untuk melihat-lihat sumber latung di Doplang, selain juga di dekat sana ada tempat keramat yang sering di-ziarahi-masyarakat. ‘Mbah’ penunggu tempat itu akan dengan senang hati bercerita tentang legenda masa lalu, asal usul kenapa tempat itu menjadi keramat. Aku berjanji akan main ke kampungnya suatu hari.

Kisah Cinta Pak Bambang

Kali ini aku dan temanku datang ke Warung Barokah saat sore hari, karena kami lupa makan sejak pagi, akibat terlalu sibuk mengerjakan hal-hal lain.

Di kota sekecil ini, sewajar apapun penampilan kami, tetap setiap orang megetahui bahwa kami orang asing. Semua orang memperhatikan dan menanyai asal-usul kami, di mana kami tinggal, apa tujuan kami ke sini, dan sejuta pertanyaan tentang the perfect stranger. Begitu juga seorang lelaki berperawakan besar seperti tentara, berkepala botak ditutupi topi pet, bercelana pendek dan duduk di meja yang bersebelahan dengan meja kami di Warung Sate Barokah.

6 

“Perkenalkan, nama saya Bambang,” ujarnya ramah,”Saya pernah sembilan tahun di Komplek Marinir Cilandak, Jakarta Selatan.”
“Oo… Bapak dari Angkatan Laut?” tanyaku.
“Ya. Tapi saya dikeluarkan karena ada masalah yang tidak bisa saya ceritakan di sini,” jawabnya sambil terus tersenyum.
“Kenapa tidak bisa, Pak?”
“Hahaha…saya ABRI stress…Hahahahahha…” dia terbahak keras sekali, membuat wajahnya berubah menjadi seram.

Walau agak takut, aku tetap bertanya ingin tahu. ”Trus,  Bapak di sini kerja apa?”
“Saya main kayu, Mbak.”
“Haa? Main kayu?” Aku membelalak, karena setahuku istilah itu digunakan untuk aksi curang dengan kekerasan. Dia mengangguk-angguk.
“Dia pengusaha kayu jati, Mbak.” Pak Jawawi menjelaskan, kusambut dengan, “Ooo…” sambil mengangguk-angguk.
“Pengusaha kayu? Berarti Bapak orang kaya, dong?” pancing saya.
Bambang terdiam sesaat, lalu menjawab, “Ya….kaya…ya kaya kamu juga….Huahahaha…” kembali dia terbahak-bahak nyaring. Aku ikut tertawa, berusaha nyaring juga.

Pak Jawawi

Udara Randublatung tidak bisa diajak berkompromi. Keringatku mengucur deras. Aku tidak berminat makan daging kambing. Hanya mencicipi sate hidangan makan siang temanku saja. Berkali-kali aku memesan es teh pada Ibu Jawawi.

Bu Jawawi
Bu Jawawi

Bambang mulai bercerita, sudah satu tahun lebih dua minggu istrinya pergi meninggalkan dia dan anak perempuan mereka yang berusia empat belas tahun. Aku cukup takjub, dia mengingat jumlah waktu dengan detil sampai ada hitungan tambahan dua minggu itu.
“Jangankan dua minggu, Mbak,  satu hari pun saya hitung sejak kepergian dia…” katanya menanggapi ketakjubanku.

Senyum tidak pernah hilang dari wajahnya, rasa pilu singgah di hatiku. 

Aku sejenak terdiam. Temanku makan dengan enggan. Kami berpandangan sesaat. Lalu aku kembali menoleh ke arah Bambang, pelan-pelan bertanya, “Meninggal, Pak?”
dia menjawab, “Ya. Meninggal…kan saya…Huahahahahahahahaha….” Aku langsung menendang kaki temanku, dan kami ikut tertawa nyaring. Pak Jawawi terkekeh-kekeh dari singgasananya di belakang panggangan sate, terus mengipas tanpa menoleh. Ibu Jawawi cekikian sampai jatuh terduduk di salah satu meja pelanggan yang sedang dibersihkannya.

9 

Setelah tawa reda, Bambang melanjutkan kisahnya, “Kalau saja dia meninggal dunia, Mbak, itu artinya sudah tidak ada lagi harapan buat saya. Tapi kalau dia meninggalkan saya, artinya masih ada sedikit harapan buat saya dan anak saya, tho?”
“Bapak masih megharapkan istri bapak balik lagi?” aku kembali terbelalak.
“Ya iya tho, Mbak, kasian anak saya.”
Lagi-lagi aku dan temanku saling melirik diam-diam.
“Tapi untungnya saya orangnya suka bercanda, Mbak. Segala persoalan saya serahkan pada Kanjeng Gusti,“ lanjut Bambang.
“Dia orangnya periang, Mbak. Suka melawak,” Pak Jawawi menambahkan.

Bambang meneruskan lagi, “Semua perasaan saya tumpahkan ke dalam lagu, Mbak, karena saya suka bernyanyi. Seperti begini misalnya…” Tiba-tiba Bambang merentangkan tangan dan mulai menyanyikan sepenggal lirik cinta dari pop band ternama yang sedang hits di seluruh Indonesia....kuingin kau tauuuuuuu...diriku di sini menanti dirimuu...meski kutunggu hingga ke ujung waktukuuuuu....dan berharap rasa ini kan abadi selamanyaaa....

sate kambing ala Pak Jawawi
sate kambing ala Pak Jawawi...pakai madu

Untuk ketiga kalinya aku menendang kaki temanku yang sepertinya tidak keberatan karena juga takjub luar biasa atas peristiwa di hadapan kami ini.

Sebelum kami meninggalkan warung, Bambang berpesan, “Jangan tersinggung ya, Mbak, Mas. Saya orangnya suka ngguyon. Mampir ke rumah saya. Nanti saya kasih mangga yang banyak…”

Kisah Cinta Pak Dar yang Perkasa

Akhirnya saya selalu ingin kembali ke warung sate Pak Jawawi. Bukan untuk makan daging kambing yang selain saya tidak terlalu suka, juga agak keterlaluan memakan binatang itu di terik matahari seperti ini. Saya mencari-cari alasan, atau memaksa teman saya untuk makan sate kambing di sana, agar saya bisa melihat ‘sesuatu’ lagi di tempat yang menyenangkan itu.

11 

Untungnya teman saya yang memang doyan daging kambing tidak keberatan. Lalu kami pun berjalan kaki menuju makan siang yang selalu aneh di Warung Sate Barokah milik Pak Jawawi.

bangku favoritku
sudut favorit

Aku dan temanku mengambil posisi favorit kami di meja paling ujung. 

Duduk di situ terasa seperti sedang duduk di bangku podium gedung teater. Strategis,  dan semua peristiwa di depan sana jadi seperti sebuah drama.

Pak Dar namanya. Dari penampilannya sepertinya dia orang cukup berada. Berperawakan tidak terlalu tinggi dan berkacamata. Menurut lihatan subjektifku, gerak-geriknya seperti seorang pengusaha toko bangunan atau pebisnis kayu dan semacamnya. Dia mengaku masih saudara ipar dengan Pak Purwantoro, induk semang kami di Randublatung. Maka dia punya alasan lebih jauh untuk menanyai kedua orang asing ini. Asli-nya dari mana? Masih ada hubungan apa dengan Pak Purwantoro? Ada urusan apa di Randublatung? Berapa lama tinggal di sini?

13 

Dia agak berani menanyakan apakah aku masih single atau tidak, dan cukup terkejut saat aku bilang sudah memiliki satu orang anak. Saat dia menanyakan apakah kami berdua suami istri, aku buru-buru menyangkalnya dan menjelaskan kami rekan kerja. Ujung-ujungnya, seperti yang aku harapkan, dia lebih bercerita tentang dirinya sendiri. Bahwa dia berusia hampir 50 tahun. Dia cukup bangga menyebut itu. Mungkin karena dia merasa masih berpenampilan dan terlihat lebih muda dari usianya. Dan aku mengakui, dalam hati,  itu memang benar.

14 

Sampailah kita pada hits sebuah kisah, “Istri saya tiga, Mbak, Mas. Anak saya sepuluh.” Katanya dengan ekspresi yang sangat bangga.Temanku langsung memberikan kakinya untuk kutendang.

Pak Dar melanjutkan, “Empat anak dari istri pertama, tiga dari yang kedua, dan tiga dari yang ketiga.”
Tanpa sadar  aku mendecak  keras  sambil menggeleng-gelengkan  kepala, “Ck..ck..ck..ck….”
“Poligami, Mbak, poligami…” Ucap Pak jawawi terkekeh sambil membungkus sate pesanan Pak Dar.
“Ya harus itu, Pak Jawawi. Kalau satu istri, mana kuat dia meladeni saya,” katanya, seperti sedang membusungkan dada. Pak Jawawi tertawa. Lalu Pak Dar berpamitan pada kami, setelah mengajak kami mampir ke rumahnya dan akan menyuguhkan mangga, kemudian melesat dengan motor bebeknya ke arah timur kota Randublatung.

15 

Singkat. Bahkan aku dan temanku tidak sempat bertanya banyak padanya, dia sudah menghilang. Meninggalkan kami yang melongo.

*     *     *

Sambil meninggalkan Warung Sate Barokah milik Pak Jawawi, temanku berpendapat dia melihat ada banyak orang stress di sana, di warung Pak Jawawi, di Randublatung. 

Berbeda dengan pendapatku yang merasa ada banyak kisah cinta di tempat itu. Dan kita sepakat, untuk lihat nanti saja, pendapat  siapa yang tepat di waktu ‘santap sate kambing’  berikutnya.

16 

Malam ini Randublatung diguyur hujan lebat sekali. Aku senang, karena tidak lagi merasa kepanasan yang luar biasa. Setelah hujan reda kami kembali ke sana, lebih untuk membuktikan hal itu dari pada menikmati sate kambing. Namun tidak ada kisah cinta yang bisa kusaksikan malam ini di warung Pak Jawawi, selain adegan Pak Jawawi dan istrinya saling berbisik satu sama lain di saat warung sudah sepi…

Randublatung, Kabupaten Blora